Khotbah Idulfitri di Kamaru: Haru Perpisahan Ramadhan hingga Pesan Berbakti kepada Orang Tua

Ustad M. G. D Farhan Masran, S. Pd saat menyampaikan Khotbah Idul Fitri 1447 H 2026 M di Masjid At Rahman Kelurahan Kamaru,

Buton,Penaaktual.id Suasana haru dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid At Rahman, Kelurahan Kamaru, Sabtu (21/3/2026).

Dalam khutbahnya, Ustad M. G. D Farhan Masran, S.Pd menyampaikan refleksi mendalam tentang makna kemenangan di hari raya, yang tidak lepas dari rasa sedih atas perginya bulan suci Ramadhan.

Di hadapan jamaah, khatib menggambarkan bahwa Idulfitri bukan hanya momentum kegembiraan, tetapi juga saat perenungan spiritual.

“Hari ini rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena meraih kemenangan, namun sedih karena berpisah dengan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan keberkahan,” ujarnya.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa berakhirnya Ramadhan merupakan kehilangan besar bagi umat Islam, karena pada bulan tersebut doa-doa diijabah, pahala dilipatgandakan, dan pintu ampunan dibuka seluas-luasnya.

Lebih lanjut, khatib menegaskan bahwa hanya orang-orang yang benar-benar merasakan nikmat ibadah di bulan Ramadhan yang akan merasakan kesedihan mendalam saat bulan itu berlalu.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadi golongan yang merugi karena menyia-nyiakan kesempatan beribadah.

Dalam khutbahnya, ia turut mengangkat gambaran penyesalan manusia di akhirat sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, ketika orang-orang yang lalai berharap dapat kembali ke dunia untuk memperbaiki amal. Namun, kesempatan tersebut tidak akan pernah datang kembali.

“Menyesallah sebelum penyesalan itu tidak ada arti. Bertaubatlah sebelum pintu taubat ditutup,” tegasnya.

Selain itu, pesan penting lain yang disampaikan adalah pentingnya memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah, yang telah berjuang membawa manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Puncak khutbah diisi dengan pesan yang sangat menyentuh tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Khatib menegaskan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua.

Ia menggambarkan betapa besar pengorbanan seorang ibu sejak mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak, yang tidak akan pernah mampu terbalaskan sepenuhnya oleh anak.

Melalui kisah inspiratif Uwais Al-Qarni, seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya, jamaah diajak untuk meneladani sikap pengabdian dan keikhlasan dalam merawat orang tua.

“Banyak orang mencari kebahagiaan ke mana-mana, padahal surga itu ada di rumah kita, yaitu pada ibu dan bapak kita,” ungkapnya

Khatib juga mengingatkan bahwa durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar yang balasannya bisa disegerakan di dunia. Sebaliknya, berbakti kepada orang tua menjadi jalan menuju kebahagiaan dan surga.

Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk memanfaatkan kesempatan selagi orang tua masih hidup dengan menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan penghormatan. Sementara bagi yang orang tuanya telah wafat, dianjurkan untuk senantiasa mendoakan mereka.

Khutbah tersebut ditutup dengan doa agar seluruh umat diberikan ampunan, serta dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.

Momentum Idulfitri di Masjid At Rahman Kamaru tahun ini pun tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga pengingat mendalam tentang makna taubat, cinta kepada Rasulullah, dan bakti kepada orang tua sebagai jalan menuju ridha Ilahi.(Jaka/Fad). 

Bagikan Postingan
Exit mobile version