“Kami Hanya Bisa Menyaksikan Rumah Kami Jadi Api”, Kisah Dibalik Keganasan Si Jago Merah di Kamaru

Warga menyaksikan menyaksikan puing-puing rumah. Berharap mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Buton.(foto.ist)

Buton, Penaaktual.id – Kelurahan Kamaru ibukota Kecamtan Lasalimu, berubah sunyi pada Senin pagi. Hanya suara seng dan kayu ramuan rumah yang berjatuhan sesekali memecah keheningan. Gelap dan abu-abu lokasi kejadian, jejak keganasan si jago merah yang menghabiskan delapan rumah warga dalam yang tak sampai empat jam.

Diantara puing-puing itu, Nurhaya wanita (48) berdiri memandangi tempat dimana dulu berdiri rumah yang dibangunnya selama puluhan tahun. Kini, hanya rangka kayu yang memanjang seperti tulang belulang, menghitam dan patah.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan, Semua habis,” ucapannya lirih, matanya tetap menatap puing yang masih hangat.

Api yang Menyapu Cepat, Warga Melawan dengan Tenaga dan Alat Seadanya

Kebakaran itu terjadi pada Minggu, 16 November 2025, sekitar pukul 22.30 wita. Suasana malam yang tenang berubah panik ketika warga melihat kobaran api yang menjulang dari salah satu rumah.

Karena jarak rumah yang berdempetan dan sebagian besar material terbuat dari kayu. Api dengan cepat merembet, membesar dan tak terkendali.

Warga berlarian membawa ember, gayung dan alat seadanya. Sebagian lagi berteriak mengingatkan penghuni rumah. Namun upaya itu hampir tak berarti ketika angin malam mempercepat penyebaran api.

“Kami berusaha mati-matian, tapi apinya terlalu besar. Kami hanya bisa mundur,” kata La Rudi salah satu korban lainnya, saat ditemui awak media Penaaktual.id di lokasi kejadian, Senin, 17 November 2025.

Api akhirnya berhasil dipadamkan 3 atau 4 jam kemudian. Pendinginan dilakukan menggunakan mesin penyedot air milik warga. Namun ketika asap terakhir menghilang, yang tersisa hanya arang dan abu,” jelasnya.

Hanya Sisa Kenangan yang Terselamatkan

Di lokasi kejadian kebakaran, beberapa warga masih berjongkok, mencoba menyingkirkan abu dengan potongan kayu, dalam hati mereka tetap berharap ada barang kecil yang masih bisa ditemukan seperti surat berharga, foto keluarga, atau barang yang punya nilai emosional.

Waode Jaharaeni, salah satu perempuan yang rumahnya juga ikut hangus, memeluk anaknya sambil sesekali menutup wajahnya.
“Hanya tersisa beberapa baju dari kejadian tadi malam. Anak-anak hanya pakaian seadanya. Tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.

Delapan kepala keluarga kehilangan rumah, pakaian, perabot, dokumen, dan sebagian besar harta benda mereka. Kerugian total diperkirakan mencapai Rp. 2 miliar.

Warga berbagi kesedihan sambil menatap puing-puing rumah sisa dari keganasan si jago merah.

Mengungsi, Bertahan, dan Saling Menguatkan

Sejumlah keluarga memilih mengungsi di rumah kerabat terdekat. Namun rasa kehilangan tetap terpancar dari wajah-wajah yang sedang duduk di antara puing hangus itu. Tak sedikit yang menangis dalam diam, memikirkan bagaimana memulai kembali hidup dari nol.

Sinyal Darurat: Ketiadaan Mobil Pemadam Kebakaran

Tragedi ini membuka kembali luka lama tentang minimnya fasilitas pemadam kebakaran di wilayah tersebut. Warga mengaku kehilangan rumah mereka bukan hanya karena api, tetapi juga karena ketiadaan unit mobil pemadam kebakaran.

“Kalau ada mobil pemadam, tidak mungkin delapan rumah habis begini,” kata La Maidin, salah satu korban.

Harapan masyarakat kini tertumpu pada pemerintah kabupaten agar menyediakan armada pemadam kebakaran, minimal satu unit yang standby di wilayah Kamaru dan sekitarnya.

Sampai Kini Penyebab Belum Diketahui

Hingga liputan ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. Aparat kelurahan bersama pihak berwenang masih menelusuri sumber api dan kronologi rinci kejadian.

Bagi warga, yang lebih penting saat ini bukan sekadar mengetahui penyebabnya, melainkan bagaimana mereka dapat berdiri kembali.(Adm/Jaka).

Bagikan Postingan
Exit mobile version