Butom,Penaktual.id – Polemik dugaan penamparan seorang siswi kelas IX SMPN 6 Buton, Kecamatan Lasalimu, berlanjut ke ruang kepala sekolah.
Sehari setelah dugaan kejadian di masjid sekolah, Rabu, 9 September 2026, siswi berinisial Bunga (nama samaran) dipanggil ke ruang Kepala SMPN 6 Buton, Asraji.
Pertemuan tersebut dihadiri kepala sekolah, guru berinisial M yang diduga melakukan kekerasan, guru BK, serta guru lainnya.
Dalam pertemuan itu, terjadi perbedaan keterangan mengenai tindakan yang dilakukan M terhadap Bunga.
Menurut keterangan Bunga, ibu guru M mempertanyakan bekas tamparan di wajahnya.
“Mana bekasnya kalau memang saya tampar kamu. Saya tidak tampar, yang bunyi itu ujung jilbabmu yang saya pukul,” kata M sebagaimana dituturkan Bunga.
Namun, seorang guru yang mengaku berada di ruangan tersebut memberikan keterangan berbeda.
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan M sempat memperagakan gerakan menampar sambil mengatakan, “Begini kalau saya tampar.”
Menurut sumber tersebut, tangan M kemudian mengenai pipi Bunga dan suara tepukan terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan.
Sumber tersebut juga menyebut Bunga mengalami tekanan dalam pertemuan itu.
Persoalan kemudian menjadi perhatian ketika Bunga disebut diminta meminta maaf kepada M.
Menurut informasi yang diperoleh PenaAktual.id, kepala sekolah menilai Bunga telah menyampaikan keterangan yang dianggap tidak benar atau mengada-ada.
Bunga akhirnya meminta maaf kepada M.
Setelah pertemuan tersebut, Bunga disebut keluar dari ruangan dalam kondisi berlinang air mata.
Selasa (15/9/2026), Saat dikonfirmasi PenaAktual.id, Asraji mengatakan persoalan tersebut telah selesai.
Ia juga menilai pemberitaan media justru memperuncing persoalan.
Awak media kemudian menjelaskan bahwa kedatangan ke sekolah bertujuan meminta klarifikasi sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan atau cover both sides.
Setelah itu, Asraji menyatakan akan memanggil guru yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan.
Bunga menyampaikan versinya, sementara M membantah melakukan pemukulan. Di sisi lain, seorang guru yang mengaku hadir memberikan keterangan berbeda mengenai peristiwa di ruang kepala sekolah.(Adm/Jaka).












