OPINI  

Guru Bukan “Bestie”: Kekeliruan Fatal dalam Ruang Kelas

Ilustrasi Kedekatan Guru dan Murid di sekolah.(foto.ist).

Editorial/Opini : Penaaktual.id

Buton,Penaaktual.id – Pengeroyokan terhadap seorang guru SMK di Jambi oleh muridnya sendiri bukan sekadar peristiwa kriminal. Ia adalah gejala. Dan seperti gejala sosial lainnya, tragedi ini menandai adanya kesalahan cara berpikir yang telah lama dibiarkan tumbuh dalam praktik pendidikan kita.

Selama ini, narasi yang kerap muncul adalah soal kenakalan remaja, krisis moral generasi muda, atau lemahnya penegakan hukum di sekolah. Semua itu ada benarnya. Namun ada satu persoalan mendasar yang jarang disentuh secara jujur: hilangnya batas profesional antara guru dan murid.

Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan ikut terseret budaya populer. Guru didorong—atau mendorong diri sendiri—untuk menjadi “asik”, “dekat”, dan “sefrekuensi” dengan murid. Istilah “guru favorit” menjadi standar prestise baru. Kedekatan emosional dianggap kunci keberhasilan pembelajaran.

Masalahnya, kedekatan yang tidak diatur oleh batas justru merusak relasi pendidikan itu sendiri.

Ketika guru berusaha menjadi teman, posisi otoritas mulai runtuh. Padahal, pendidikan tidak pernah berlangsung dalam relasi setara. Ada peran, ada tanggung jawab, dan ada hierarki fungsional yang tidak bisa dinegosiasikan.

Guru bertanggung jawab mendidik; murid bertanggung jawab belajar. Menyamakan posisi keduanya atas nama keakraban adalah kekeliruan konseptual.

Remaja bukanlah orang dewasa mini. Secara psikologis, mereka masih berada pada fase emosi labil, ego rapuh, dan kontrol diri yang belum matang. Ketika guru menanggalkan jarak profesional, siswa kehilangan figur otoritas yang seharusnya menjadi rujukan batas benar dan salah. Yang tersisa hanyalah relasi personal yang rapuh, mudah tersinggung, dan rawan konflik.

Dalam kondisi seperti itu, teguran tidak lagi dibaca sebagai koreksi, tetapi sebagai serangan. Disiplin dianggap penghinaan. Dan otoritas—yang sudah terlanjur dianggap setara—menjadi sasaran perlawanan.

Ilustrasi proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.(foto.ist). 

Di sinilah kekerasan menemukan momentumnya.

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal metode pembelajaran, tetapi juga soal pembentukan adab. Adab membutuhkan struktur. Struktur membutuhkan jarak. Jarak profesional bukanlah sikap dingin atau otoriter, melainkan mekanisme perlindungan—baik bagi guru maupun murid.

Ironisnya, wacana pendidikan modern sering memposisikan hierarki sebagai sesuatu yang usang dan represif. Padahal tanpa hierarki, tidak ada disiplin. Tanpa disiplin, sekolah berubah menjadi ruang sosial biasa yang kehilangan fungsi pendidikannya.

Guru tidak diciptakan untuk disukai. Guru diciptakan untuk dihormati karena perannya. Penghormatan itu tidak lahir dari popularitas, tetapi dari konsistensi, ketegasan, dan batas yang jelas.

Ini bukan ajakan untuk kembali ke model pendidikan keras dan menakutkan. Guru tetap harus ramah, empatik, dan manusiawi. Namun keramahan yang sehat selalu disertai jarak profesional. Empati yang dewasa tidak pernah menanggalkan wibawa.

Tragedi di Jambi seharusnya menjadi peringatan nasional: ketika guru kehilangan posisi sebagai figur otoritas, yang terancam bukan hanya keselamatan pendidik, tetapi masa depan pendidikan itu sendiri.

Sudah waktunya dunia pendidikan berhenti memproduksi guru yang ingin menjadi “bestie”. Sekolah membutuhkan pendidik yang berdiri tegak sebagai mentor, pemimpin, dan penjaga nilai.

Ramah, ya.
Akrab, boleh.
Tapi guru bukan teman sebaya.
Jika batas ini terus kabur, kekerasan hanyalah soal waktu.

Bagikan Postingan
Exit mobile version