PORSENI PGRI Momentum Menata Disiplin Guru dan Menguatkan Karakter Pendidikan Buton

Wakil Bupati Buton, Syarifuddin Saafa, ST, buka kegiatan (PORSENI) PGRI Tingkat Kabupaten Buton dalam rangka memperingati HUT PGRI ke-80 tahun 2025.

Buton, Penaaktual.id – Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) PGRI 2025 resmi dibuka Wakil Bupati Buton, Syarifuddin Saafa, S.T, di Lapangan Wabula, Senin, 17 November 2025. Namun lebih dari sekadar sebuah seremoni, kegiatan ini menjadi cermin bagaimana pemerintah daerah menaruh perhatian pada penguatan karakter, kedisiplinan, dan kualitas pendidikan di Kabupaten Buton.

Mewakili Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, SH, Wabup menegaskan bahwa PORSENI bukan hanya festival kompetisi dan hiburan tahunan. Di balik parade sembilan kontingen PGRI dari seluruh kecamatan, terdapat pesan besar tentang bagaimana guru seharusnya menjadi teladan—bukan hanya dalam pengajaran, tetapi juga dalam perilaku, kerapian, dan integritas.

“PORSENI adalah ruang untuk memperkuat sportivitas, kerja sama, dan disiplin. Ini semua adalah karakter dasar yang harus dimiliki pendidik,” tegas Wabup.

Dalam sambutan yang sarat pesan moral, Syarifuddin menyampaikan dua istilah yang mencuri perhatian: “kudis” (kurang disiplin) dan “kurap” (kurang rapi). Ungkapan humoris namun bernas itu menyentil pentingnya keteladanan guru, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat pembentukan karakter generasi muda.

“Kerapian dan kebersihan, termasuk kebersihan toilet sekolah, adalah wujud iman dan budaya positif. Guru harus memulainya dari diri sendiri,” ujarnya.

Pesan ini menjadi relevan di tengah tantangan dunia pendidikan pascapandemi, di mana kualitas pembelajaran bergantung pada profesionalitas tenaga pendidik.

Ia mengajak seluruh pendidik mendukung visi pembangunan daerah melalui program Buton Bersinar” dan terutama “Buton Religius”, yang mendorong integrasi nilai-nilai moral dan religius di seluruh sekolah.

Kegiatan PORSENI PGRI di Kabupaten Buton diawali dengan pawai peserta lomba.

Sejumlah sekolah disebut telah mulai menerapkan program tersebut, dan pemerintah berkomitmen melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan implementasinya berjalan efektif.

Pendekatan ini menempatkan guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi penggerak budaya sekolah, agen perubahan sosial, dan penentu arah pendidikan Buton ke depan.

Di tengah tekanan pekerjaan dan tuntutan profesionalitas, PORSENI hadir sebagai ruang pemulihan semangat para guru. Ajang ini mempertemukan pendidik dari berbagai wilayah, mencairkan sekat, dan membuka ruang interaksi kreatif.

Kompetisi seni dan olahraga seperti baca Al-Qur’an, melukis, paduan suara, senam tabola-bale, tari kreasi tunggal, hingga lomba video pembelajaran, menjadi medium untuk mengukur bukan hanya bakat, tetapi juga kolaborasi dan kreativitas.

Kehadiran Ketua DPRD, Forkopimda, Kepala Dinas Pendidikan, Ketua PGRI, serta pimpinan instansi vertikal lainnya menunjukkan bahwa PORSENI telah menjadi agenda besar yang menyatukan banyak pihak.

Lebih jauh, ajang ini menjadi simbol bahwa pembenahan pendidikan Buton bukan hanya kebijakan teknis, tetapi gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, guru, dan masyarakat pendidikan secara luas.(Adm/Zydan/Jaka).

Bagikan Postingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *