Buton,Penaaktual.id – Hilangnya Wa Sani (70), seorang lansia warga Desa Wasuamba, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, selama dua hari di kawasan kebun dan hutan, menyisakan cerita yang menggetarkan sekaligus mengundang perenungan.
Selain soal keselamatan lansia di medan berat, kisah ini juga menyentuh sisi keyakinan yang hidup di tengah masyarakat setempat.
Wa Sani diketahui pergi ke kebun pada Senin (19/1/2026). Kebun yang didatanginya bukan miliknya sendiri, melainkan lahan anaknya. Keluarga sebenarnya telah melarang karena kondisi jalur menuju kebun cukup ekstrem.
Namun Wa Sani tetap berangkat, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada tanda sakit, tidak ada keluhan yang mengkhawatirkan.
Hingga sore hari, Wa Sani tak kunjung pulang.
Dua Hari Tersesat
Pencarian dilakukan oleh keluarga, warga, hingga tim SAR gabungan. Selama dua hari dinyatakan hilang, Wa Sani ternyata tidak makan, namun saat ditemukan ia masih sadar dan mampu berkomunikasi dengan baik.
Ia bahkan mengingat dengan jelas bahwa dirinya telah dua hari berada di hutan.
Yang kemudian menjadi perhatian warga adalah penuturan Wa Sani setelah ditemukan.

Penuturan Korban
Kepada keluarga dan petugas, Wa Sani mengaku bahwa saat meninggalkan pondok kebun, ia merasa dituntun oleh seseorang yang sosoknya menyerupai anggota keluarganya. Dengan keyakinan akan dibawa pulang, ia mengikuti sosok tersebut.
Namun, menurut pengakuannya, langkah-langkah itu justru membawanya semakin jauh dari permukiman. Wa Sani merasa tersesat dan kebingungan, seolah berada di tempat yang berbeda dari yang dikenalnya.
Ia menyebut selama hilang sempat bolak-balik berada di kawasan Gunung Siontapina dan Watole, wilayah yang oleh sebagian masyarakat setempat diyakini memiliki nilai sakral.
Cerita ini berkembang di tengah warga sebagai penjelasan personal korban dan bagian dari kepercayaan lokal. Hingga kini, tidak ada bukti faktual yang dapat memastikan kebenaran di balik penuturan tersebut.
Sikap SAR: Tetap pada Protap
Pihak SAR menegaskan bahwa selama operasi pencarian, tidak ditemukan jejak korban. Karakteristik kawasan dinilai sebagai area perkebunan dan hutan yang secara umum memang rawan bagi siapa pun, terutama lansia.
“Semua hutan memiliki risiko. Kami tetap bekerja sesuai prosedur tetap BASARNAS, tanpa terpengaruh isu di luar aspek teknis,” Yayan La Ihu, koordinator dan penanggung jawab di lapangan Tim BASARNAS Kota Baubau.
SAR juga menjelaskan bahwa drone thermal tidak digunakan karena kondisi cuaca dan angin yang tidak memungkinkan, sehingga pencarian difokuskan pada penyisiran darat dan pendekatan komunikasi.

Ditemukan Selamat
Wa Sani akhirnya ditemukan pada Rabu (21/1/2026) pagi, dalam kondisi selamat, berada di sekitar pinggiran sungai, ratusan meter dari titik awal ia dinyatakan hilang. Ia langsung dievakuasi dan dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Antara Keyakinan dan Keselamatan
Bagi keluarga, peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang kerentanan lansia yang masih beraktivitas di medan berat. Bagi masyarakat, kisah Wa Sani hidup sebagai cerita yang berkaitan dengan alam dan keyakinan lokal. Sementara bagi tim SAR, peristiwa ini menegaskan pentingnya disiplin prosedur dan kesiapsiagaan.
Wa Sani selamat. Namun kisah dua hari hilangnya akan terus dikenang warga Wasuamba sebagai cerita tentang manusia, alam, dan keyakinan yang berjalan berdampingan dengan upaya kemanusiaan.(Adm/Jaka)












